Sabtu, 17 November 2012

PENGOBATAN DARI BUMI BANTEN



Assalamu'alaikum wr.wb.


PONDOK PENGOBATAN AL-BANTANY
(IBNU SINA BEKAM HERBAL RUQYAH CENTER)
BERDIRI SEJAK TAHUN 2006
MELAYANI :



PENGOBATAN NON MEDIS SEPERTI :

 o   GANGGUAN MAKHLUK GHAIB
 o   SIHIR (SANTET, PELET, GENDAM, DIGUNA-GUNA)
 o   SUSAH TIDUR, TIDAK BISA TIDUR,  ATAU INGIN TIDUR TERUS
 o   MELIHAT PENAMPAKAN MAKHLUK GHAIB
 o   ANAK REWEL TERUS MENERUS / TIDAK WAJAR
 o KEHILANGAN SAUDARA,TEMAN DLL (ORANG KABUR/MENGHILANG TANPA    JEJAK)
 o   PENYAKIT ANEH (TIDAK WAJAR SECARA MEDIS)
 o   PENYAKIT KRONIS TAHUNAN
 o   MALAS (MALAS KERJA, MALAS BELAJAR, MALAS IBADAH)
 o   MERASAKAN SESUATU YANG GANJIL PADA TUBUH
 o   INGIN MEMBERSIHKAN BADAN DARI ILMU-ILMU HITAM
 o   KERASUKAN JIN
 o   GILA
 o   STRESS MENAHUN
                                                                DLL


JIKA ANDA SUDAH BOSAN BERKELILING MENCARI KESEMBUHAN TETAPI TIDAK MENDAPATKAN SOLUSI ALIAS JAWABANNYA

MAKA DATANGLAH KE TEMPAT KAMI BI IDZNILLAH SEMUA PENYAKIT JASMANI-ROHANI- ATAU PENYAKIT MEDIS DAN NON MEDIS YANG ANDA ALAMI SEMBUH SETELAH KAMI TANGANI



RUTE:
o    Dari arah tujuan manapun berhenti di terminal bus ‘Pakupatan Serang-Banten’,
 Naik angkot jurusan alun-alun KOTA SERANG (ongkos 3000), berhenti di
    Ramayana Serang Mall,  
o  Kemudian naik becak ke Pondok Pengobatan Al Bantany / IBNU SINA (ongkos 4000)


ALAMAT PRAKTEK:
Jl.Yumaga no.23 Benggala, Serang...Propinsi Banten, Belakang Ponpes At Thabraniyyah
HP.0819 1104 7146 (hanya bagi yang serius)


TUNGGU APALAGI … BI IDZNILLAH SUDAH BANYAK PASIEN SEMBUH DI TANGAN KAMI

RUQYAH PART 1


                                                            Definisi Ruqyah


Makna ruqyah secara terminologi adalah al-‘udzah (sebuah perlindungan) yang digunakan untuk melindungi orang yang terkena penyakit, seperti panas karena disengat binatang, kesurupan, dan yang lainnya. (Lihat An-Nihayah fi Gharibil Hadits karya Ibnul Atsir t 3/254)
Secara terminologi, ruqyah terkadang disebut pula dengan ‘azimah. Al-Fairuz Abadi berkata: “Yang dimaksud ‘azimah-‘azimah adalah ruqyah-ruqyah. Sedangkan ruqyah yaitu ayat-ayat Al-Qur`an yang dibacakan terhadap orang-orang yang terke-na berbagai penyakit dengan mengharap kesembuhan.” (Lihat Al-Qamus Al-Muhith pada materi )
Adapun makna ruqyah secara etimologi syariat adalah doa dan bacaan-bacaan yang mengandung permintaan tolong dan perlindungan kepada Allah I untuk mencegah atau mengangkat bala/penyakit. Terkadang doa atau bacaan itu disertai dengan sebuah tiupan dari mulut ke kedua telapak tangan atau anggota tubuh orang yang meruqyah atau yang diruqyah. (Lihat transkrip ceramah Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh yang berjudul Ar-Ruqa wa Ahkamuha oleh Salim Al-Jaza`iri, hal. 4)
Tentunya ruqyah yang paling utama adalah doa dan bacaan yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Ibid, hal. 5)

                                                Ruqyah di Masa Jahiliyyah

Setiap manusia yang mengerti kemaslahatan tentunya selalu ingin menjaga kesehatan tubuh dan jiwanya. Barangsiapa bisa memenuhi keinginan ini berarti karunia Allah I untuk dirinya cukup besar. Sehingga wajar jika pengobatan ruqyah telah dikenal secara luas di tengah masyarakat jahiliyyah.
Ruqyah adalah salah satu cara peng-obatan yang mereka yakini dapat menyem-buhkan penyakit dan menjaga kesehatan. Kala itu, ruqyah digunakan untuk mengo-bati berbagai penyakit, seperti tersengat binatang berbisa, terkena sihir, kekuatan ‘ain (mata jahat), dan lainnya.
Namun yang disayangkan, ruqyah sering menjadi media untuk penyebarluasan berbagai kesyirikan di kalangan mereka. Pengobatan ruqyah yang dilakukan tak luput dari pelanggaran syariat. Di antaranya adalah pengakuan mengetahui perkara ghaib, menyekutukan Allah I, menyandar-kan diri kepada selain Allah I, berlindung kepada jin, dll.
Setelah Islam datang, seluruh ruqyah dilarang oleh Rasulullah n kecuali yang tidak mengandung kesyirikan. Islam mengajarkan kaum muslimin untuk berhati-hati dalam menggunakan ruqyah. Sehingga mereka tidak terjatuh ke dalam pengobatan ruqyah yang mengandung bid’ah atau syirik.
‘Auf bin Malik z berkata:
“Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang hal itu?’ Beliau menjawab: ‘Tunjukkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah-ruqyah itu tidak mengapa selama tidak mengandung syirik’.” (HR. Muslim no. 2200)
Kebanyakan manusia terpedaya dengan penampilan ‘shalih’ dari orang yang meruqyah. Sehingga mereka tak lagi memperhatikan tata cara dan isi ruqyah yang dibacakan.
Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh hafizhahullah (semoga Allah I menjaganya) berkata: “Penyebaran kesyi-rikan banyak terjadi di negeri-negeri Islam melalui para tabib, orang yang mengobati dengan ramu-ramuan dan mengobati dengan Al-Qur`an. Ibnu Bisyr menyebutkan pada permulaan Tarikh Najd, di antara faktor penyebab tersebarnya kesyirikan di negeri Najd adalah keberadaan para tabib dan ahli pengobatan dari orang-orang Badwi di berbagai kampung sewaktu musim buah. Manusia membutuhkan mereka untuk keperluan meruqyah dan pengobatan. Maka mereka memerintahkan manusia dengan kesyirikan dan cara-cara yang tidak disyariatkan….” (Ibid, hal. 2)


                                                            Hukum Ruqyah

Ruqyah telah dikenal oleh masyarakat jahiliyyah sebelum Islam. Tetapi kebanyakan ruqyah mereka mengandung kesyirikan. Padahal Islam datang untuk mengenyahkan segala bentuk kesyirikan. Alasan inilah yang membuat Rasulullah n melarang para shahabat g untuk melakukan ruqyah. Kemudian beliau membolehkannya selama tidak mengandung kesyirikan. Beberapa hadits telah menjelaskan kepada kita tentang fenomena di atas. Di antaranya:
1. Dari Abdullah bin Mas’ud z, bahwa beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
“Sesungguhnya segala ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Al-Hakim. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Asy-Syaikh Al-Albani juga menshahih-kannya. Lihat Ash-Shahihah no. 331)
2. Dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i z, bahwa beliau berkata:
Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang hal itu?” Beliau menjawab: “Tunjukkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah-ruqyah itu tidak mengapa selama tidak mengandung syirik.” (HR. Muslim no. 2200)
3. Dari Jabir bin Abdillah z, bahwa beliau berkata:
Rasulullah n melarang dari segala ruqyah. Lalu keluarga ‘Amr bin Hazm datang kepada Rasulullah n. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu memiliki ruqyah yang kami pakai untuk meruqyah karena (sengatan) kala-jengking. Tetapi engkau telah melarang dari semua ruqyah.” Mereka lalu menunjukkan ruqyah itu kepada beliau. Beliau bersabda: “Tidak mengapa, barangsiapa di antara kalian yang mampu memberi kemanfaatan bagi saudaranya, maka hendaknya dia lakukan.” (HR. Muslim no. 2199)
4. Dari Jabir bin Abdillah z beliau berkata:
“Dahulu pamanku meruqyah karena (sengatan) kalajengking. Sementara Rasu-lullah n melarang dari segala ruqyah. Maka pamanku mendatangi beliau, lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau melarang dari segala ruqyah, dan dahulu aku meruqyah karena (sengatan) kalajengking.’ Rasulullah n pun bersabda: ‘Barangsiapa di antara kalian yang mampu memberi manfaat bagi saudaranya, maka hendaknya dia lakukan.” (HR. Muslim no. 2199)
5. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit z beliau berkata:
“Di masa jahiliyyah dulu aku meruqyah karena (sengatan) kalajengking dan ‘ain (sorotan mata yang jahat). Tatkala aku masuk Islam, aku memberitahukannya kepada Rasulullah n. Rasulullah n bersabda: ‘Perlihatkan ruqyah itu kepadaku!’ Lalu aku menunjukkannya kepada beliau. Beliau pun bersabda: ‘Pakailah untuk meruqyah, karena tidak mengapa (engkau) menggunakannya’.” (HR. At-Thabrani dan dihasankan oleh Al-Haitsaimi dalam Majma’ Az-Zawa`id. Lihat tahqiq Al-Huwaini terhadap kitab Al-Amradh karya Dhiya`uddin Al-Maqdisi, hal. 220)
6. Dari Syifa` bintu Abdullah x:
“Dahulu dia meruqyah di masa jahiliyyah. Setelah kedatangan Islam, maka dia berkata: ‘Aku tidak meruqyah hingga aku meminta izin kepada Rasulullah n.’ Lalu dia pun pergi menemui dan meminta izin kepada beliau. Rasulullah n bersabda kepadanya: ‘Silahkan engkau meruqyah selama tidak mengandung perbuatan syirik’.” (HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan yang lainnya. Al-Huwaini berkata: “Sanadnya muqarib.” Ibid, hal. 220)
Demikianlah mereka melakukan ruqyah di masa jahiliyyah. Ruqyah mereka mengandung perbuatan syirik sehingga dilarang Rasulullah n. Kemudian beliau membolehkannya bagi mereka selama tidak mengandung kesyirikan. Beliau memboleh-kannya karena ruqyah itu bermanfaat bagi mereka dalam banyak hal.
Al-Imam Al-Qurthubi t berkata: “Hadits-hadits sebelumnya menunjukkan bahwa hukum asal seluruh ruqyah adalah dilarang, sebagaimana yang tampak dari ucapannya: ‘Rasulullah n melarang dari segala ruqyah.’ Larangan terhadap segala ruqyah itu berlaku secara mutlak. Karena di masa jahiliyyah mereka meruqyah dengan ruqyah-ruqyah yang syirik dan tidak dipahami. Mereka meyakini bahwa ruqyah-ruqyah itu berpengaruh dengan sendirinya. Ketika mereka masuk Islam dan hilang dari diri mereka yang demikian itu, Nabi n melarang mereka dari ruqyah secara umum agar lebih mantap larangannya dan lebih menutup jalan (menuju syirik). Selanjutnya ketika mereka bertanya dan mengabarkan kepada beliau bahwa mereka mendapat manfaat dengan ruqyah-ruqyah itu, beliau memberi keringanan sebagiannya bagi mereka. Beliau bersabda: ‘Perlihatkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa menggunakan ruqyah-ruqyah selama tidak mengandung syirik’.” (Ahkamur Ruqa wa At-Tama`im hal. 35)
Dalam sebuah hadits Rasulullah n bersabda:
“Tidak ada ruqyah kecuali karena ‘ain (sorotan mata yang jahat) atau humah (sengatan kalajengking).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Turmudzi, dan Ibnu Majah dari shahabat ‘Imran bin Hushain z)
Menurut sebagian pendapat bahwa ruqyah tidak diperbolehkan kecuali karena dua hal yang telah disebutkan dalam hadits di atas. (Lihat Fathul Bari, 10/237, cetakan Darul Hadits)
Ini adalah pendapat yang lemah karena Rasulullah n tidak memaksudkan dengan sabdanya tersebut untuk melarang ruqyah pada yang selain keduanya. Yang beliau maksudkan bahwa ruqyah yang paling utama dan bermanfaat adalah ruqyah yang disebabkan karena ‘ain atau humah. Hal ini terlihat dari uraian hadits. Ketika Sahl bin Hunaif terkena ‘ain, dia bertanya: “Adakah yang lebih baik dalam ruqyah?”
Rasulullah n bersabda:
“Tidak ada ruqyah kecuali karena satu jiwa dan humah (sengatan kalajengking).”
Demikian pula hadits-hadits yang lain, baik yang bersifat umum atau khusus, seluruhnya mengarah kepada makna di atas. (Lihat Zadul Ma’ad, 4/161, cet. Muassasah Ar-Risalah)
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Para ulama berkata: ‘Rasulullah n tidak memaksudkan untuk membatasi ruqyah hanya pada keduanya dan melarang dari selain keduanya. Yang beliau maksudkan adalah tidak ada ruqyah yang lebih benar dan utama daripada ruqyah karena ‘ain dan hummah karena bahaya keduanya sangat dahsyat.” (Syarh Shahih Muslim 14/177, cet. Al-Maktab Ats-Tsaqafi)

Sabtu, 15 September 2012



Assalamu'alaikum wr.wb.
PONDOK PENGOBATAN AL-BANTANY / IBNU SINA BEKAM HERBAL CENTER MELAYANI :


·         PENGOBATAN MEDIS DARI MULAI RINGAN HINGGA KRONIS

·         PENGOBATAN NON MEDIS SEPERTI; (SIHIR, KERASUKAN JIN, GILA,
TERKENA SANTET/PELET/HIPNOTIS, STRES MENAHUN DLL)


JIKA ANDA SUDAH BOSAN BERKELILING MENCARI KESEMBUHAN TETAPI TIDAK MENDAPATKAN SOLUSI ALIAS JAWABANNYA

MAKA DATANGLAH KE TEMPAT KAMI BI IDZNILLAH SEMUA PENYAKIT JASMANI-ROHANI- ATAU PENYAKIT MEDIS DAN NON MEDIS YANG ANDA ALAMI SEMBUH SETELAH KAMI TANGANI

                                                DENGAN TERAPI PENGOBATAN :
BEKAM  - RUQYAH - GURAH - HERBAL - TOTOK SYARAF - PIJAT REFLEXY - TERAPI HALILINTAR 

                                                     
RUTE: dari arah tujuan manapun berhenti di terminal bus ‘Pakupatan Serang-Banten’,
              Naik angkot jurusan alun-alun kota serang (ongkos 3000),berhenti di Ramayana  
              Serang Mall,  
              kemudian naik becak ke Pondok Pengobatan Al Bantany (ongkos 4000)


alamat Praktek: Jl.Yumaga no.23 Serang...Banten,Belakang Ponpes At Thabraniyyah
hp.0819 1104 7146 (hanya bagi yang serius)



TUNGGU APALAGI … BI IDZNILLAH SUDAH BANYAK PASIEN SEMBUH DI TANGAN KAMI

Jumat, 30 Maret 2012

RUTE LOKASI


Assalamu'alaikum wr.wb.
PONDOK PENGOBATAN AL-BANTANY MELAYANI :


·         PENGOBATAN MEDIS DARI MULAI RINGAN HINGGA KRONIS

·         PENGOBATAN NON MEDIS SEPERTI; (SIHIR, KERASUKAN JIN, GILA,
TERKENA SANTET/PELET/HIPNOTIS, STRES MENAHUN DLL)


JIKA ANDA SUDAH BOSAN BERKELILING MENCARI KESEMBUHAN TETAPI TIDAK MENDAPATKAN SOLUSI ALIAS JAWABANNYA

MAKA DATANGLAH KE TEMPAT KAMI BI IDZNILLAH SEMUA PENYAKIT JASMANI-ROHANI- ATAU PENYAKIT MEDIS DAN NON MEDIS YANG ANDA ALAMI SEMBUH SETELAH KAMI TANGANI



RUTE: dari arah tujuan manapun berhenti di terminal bus ‘Pakupatan Serang-Banten’,
              Naik angkot jurusan alun-alun kota serang (ongkos 3000),berhenti di Ramayana  
              Serang Mall,  
              kemudian naik becak ke Pondok Pengobatan Al Bantany (ongkos 4000)


alamat Praktek: Jl.Yumaga no.23 Serang...Banten,Belakang Ponpes At Thabraniyyah
hp.0819 1104 7146 (hanya bagi yang serius)



TUNGGU APALAGI … BI IDZNILLAH SUDAH BANYAK PASIEN SEMBUH DI TANGAN KAMI

Cara ber Tawasul kepada Wali Allah 1



Assalamu’alaika Yaa Waliyullah
Assalamu’alaika Yaa Da’i ilaa Thoriiqillah
Assalamu’alaika Yaa Man akromahulloh bil ‘ilmi wal wilayah wa ‘inda qobri ahli baitin nabiyyi Sholallahu ‘alaihi wa sallama tuzaadu bihadzihil kalimaati.
Assalamu’alaika Yaa Ahla baiyti Rasulillahi Sholallahu ‘alaihi  wa sallama.
Assalamu’alaika Yaa Baniiz Zahroo-il Batul.
Assalamu’alaika Yaa Baniil Musthofa Sholallahu ‘alaihi  wa aalihi wa sallama..
Assalamu’alaika wa ‘alaa jaddika Rasulillahi Sholallahu ‘alaihi  wa sallama.
Assalamu’alaika wa ‘alaa jaaddatika Sayyidatina Fatimataz zahro sayyidati nisaa-il ‘aalamiin warohmatullahi wa barokatuh.
Kemudian duduk sambil membaca  :
Attahiyyaatul mubaarokaatush-sholawaatuth-thoyyibaatu lillahi.Assalamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu warohmatullahi wa barokatuhu.
Assalamu’alainaa wa’alaa ‘ibaadillahish-shoolihiin…( Yaa Hayyu Yaa Qoyyum.7x tanpa nafas )
Allahumma inni waaqifun bibaabika walaa-idzun bijanaabika wa muta’awwidzun bijalaalika wa mutawassilun bi auliyaa-ika wa mustasyfi’un bi waliyyika……………..bin…………..antaqdhiya jamii’a haajati…..( sebut hajat kita )
( Cat : setelah kalimat bi Waliyyika sebut nama Wali yang kita Ziarohi )
Setelah itu membaca   :
·         Asyhaduan laa ilaha ilallah wa asyhaduanna Muhammadar rasulullah.3x
·         Astaghfirullahal adhiimal ladzii laa ilaha illa huwal Hayyul Qoyyumu wa atubu ilaihi.3x
·         Sholawat Ruh :
Bismillahir rahmaanir rahiim.
Allhohumma sholli ‘alaa ruuhi sayyidina Muhammadin fiil arwaahi wa ‘alaa jasadihi fil ajsaadi wa ‘alaa Qobrihi fiil Qubuuri wa ‘alaa alihi wa shohbihi wabarik wa sallim tasliiman bi qodri ‘adhoomati dzaatika fii kulli waqtin wahiin.11x
Setelah itu bacalah surah yasiin wa tahlil seperti biasanya. Baru kemudian kita membaca fatehah khusus kepada waliyullah tersebut. Mulailah dengan pembacaan fatehah sebagai berikut….
1.       Alfatehah liridho illahi ta’alaa… syai-un lillahi ta’alaa…. alfatehah.1x
2.       Alfatehah lisyafaa’atin Nabiyyi Sayyidina Muhammadin Sholallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam….Alfatehah 1x
3.       Alfatehah libarokaati karoomati auliyaa-illahi ta’alaa….Alfatehah 1x
4.       Alfatehah liridhol walidayni syai-un lillahi ta’alaa….. Alfatehah 1x
5.       Alfatehah li akhi wa tau-amaani wa qoriibi syai-un lillahi ta’alaa….. Alfatehah 1x
6.       Alfatehah ilaa ruuhi karoomati ………( Nama Wali yang dimaksud )…….wawalidayhi wa masya-ikhihi. …..Alfatehah 1x
7.       Assalamu’alaika Yaa Syekh……….( Nama Wali yang dimaksud ) 7x…( Hadir )
8.       Hatta Arokum bi’aiini wa ukallimukum bilisaanii. 7x
9.       Kemudian baca Dzikir ini   : Yaa Huu.1511x
Kemudian bacalah Amalan Asadullahil Gholib.
Pembacaan ini dimaksudkan untuk pencegahan dari kedatangan Ruhaniyyah atau sebangsa jin yang akan menyerupai Wali yang kita inginkan. Insya Allah setelah membaca ini maka ruhaniyyah / Jin / Khodam itu tidak akan bisa menyerupai sang Waliyullah. Ciri-ciri kedatangan Waliyullah biasanya diiringi dengan suasana yang terasa hening, badan dan pikiran kita terasa tenang, hati merasa haru.Terasa tumbuh Jiwa Tauhid kepada Allah SWT, meleburnya nafsu dalam diri, timbul rasa berdosa akan kesalahan / maksiat yg kita perbuat.
Alfatehah ‘ala niyyatil hifzhi wassalamati min syarril kholqi ajma’in,waliridho illahi ta’alaa  syai-un lillahi bissiril fatehah…..
1. Asyhaduan laa ilaha illallah wa asyhaduanna muhammadan rasulullah. 3x
2. Astaghfirullahal adziim. 3x
3. Allahumma sholli ‘alaa sayyidina muhammadin nabiyil’ummi wa ‘alaa alihi wa shohbihi wa sallam.3x
4. Fakasyafna ‘anka ghithoo-aka fabashurkal yauma haddid.3x
5. Lahaula walaa quwwata illa billah.
6. Bismillahi…( Allahu akbar.3x senafas) tawasaltu bi sayyidil imam masyriq wal maghrib asadullahil gholib sayyidina ali bin abi tholib wa tilmidzihi dzul-iman laqobuhu kian santang, wal habib abdullah bin abdul qodir bil-faqih, wa syekh……..( isi dengan nama wali yang kita ziarohi )
7. Allahumma iyyakana’budu wa iyyaka nasta’iin…….( Niatkan disini hajatmu)
8. Ihfazhna wa salimna min syarril kholqi ajma’iin.
9. Bihaqqi…. : Laa ilaha illallah. 7x ( tahan nafas….)
10. sambung dengan ucapan : Muhammadur rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam.
11. Ya ‘ibadallah a’iinuuni.3x
12. Ya Rijal Ghoib unshuruni billah.3x
13. Ya Allah..66x / 1000x
14. Sholawat Nuur:
Allahumma sholli ‘ala nuril anwar, wa sirril asror,wa tiryaqil aghyaar, Wa miftahii baabil yasaar, sayyidina muhammadinil mukhtar wa alihil ath-har,wa ashabihil akhyaar, ‘adada ni’amillahi wa ifdholi…11 x
Selanjutnya hidupkan dzikir nafasnya selama kurang lebih 10 menit / selama setengah jam / selama yang kita inginkan )
Caranya:
1. Tarik nafas dari bawah pusat sampai ke ubun-ubun, baca                        : HUU
2. Turun nafas dari ubun-ubun kebawah susu kanan 2 jari, baca                 : ALLAH……sambil munajat kepada Allah dibatin . Fokus untuk kehadiran sang waliyullah.

Selasa, 11 Oktober 2011

POLIGAMI DAN MONOGAMI

 
 
 
Al-Quran surat Al-Nisa' [4]: 3 menyatakan,
 
    Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap
    perempuan-perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya),
    maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi:
    dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu khawatir tidak
    dapat berlaku adil (dalam hal-hal yang bersifat
    lahiriah jika mengawini lebih dari satu), maka
    kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu
    miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak
    berbuat aniaya.
 
Atas dasar ayat inilah sehingga Nabi Saw. melarang  menghimpun
dalam saat yang sama lebih dari empat orang istri bagi seorang
pria. Ketika turunnya ayat  ini,  beliau  memerintahkan  semua
yang  memiliki  lebih  dari  empat  orang  istri,  agar segera
menceraikan istri-istrinya  sehingga  maksimal,  setiap  orang
hanya   memperistrikan   empat   orang   wanita.  Imam  Malik,
An-Nasa'i, dan  Ad-Daraquthni  meriwayatkan  bahwa  Nabi  Saw.
bersabda  kepada  Sailan bin Umayyah, yang ketika itu memiliki
sepuluh orang istri.
 
    Pilihlah dari mereka empat oranq (istri) dan ceraikan
    selebihnya.
 
Di sisi  1ain  ayat  ini  pula  yang  menjadi  dasar  bolehnya
poligami. Sayang ayat ini sering disalahpahami. Ayat ini turun
--sebagaimana  diuraikan  oleh  istri   Nabi   Aisyah   r.a.--
menyangkut   sikap   sementara   orang  yang  ingin  mengawini
anak-anak yatim  yang  kaya  lagi  cantik,  dan  berada  dalam
pemeliharaannya,  tetapi tidak ingin memberinya mas kawin yang
sesuai serta  tidak memperlakukannya  secara  adil.  Ayat  ini
melarang  hal tersebut dengan satu susunan kalimat yang sangat
tegas. Penyebutan  "dua,  tiga  atau  empat"  pada  hakikatnya
adalah  dalam  rangka  tuntutan  berlaku  adil  kepada mereka.
Redaksi ayat ini mirip dengan ucapan seseorang  yang  melarang
orang  1ain  memakan  makanan  tertentu,  dan untuk menguatkan
larangan itu dikatakannya, "Jika Anda khawatir akan sakit bila
makan  makanan  ini, maka habiskan saja makanan selainnya yang
ada di hadapan Anda selama Anda tidak khawatir  sakit".  Tentu
saja  perintah  menghabiskan  makanan  yang lain hanya sekadar
untuk menekankan larangan memakan makanan tertentu itu.
 
Perlu juga digarisbawahi bahwa ayat ini,  tidak  membuat  satu
peraturan  tentang poligami, karena poligami telah dikenal dan
dilaksanakan oleh syariat agama dan adat istiadat sebelum ini.
Ayat  ini juga tidak mewajibkan poligami atau menganjurkannya,
dia hanya berbicara tentang bolehnya  poligami,  dan  itu  pun
merupakan  pintu  darurat  kecil, yang hanya dilalui saat amat
diperlukan dan dengan syarat yang tidak ringan.
 
Jika demikian halnya, maka pembahasan tentang  poligami  dalam
syariat  Al-Quran,  hendaknya  tidak  ditinjau dari segi ideal
atau baik  dan  buruknya,  tetapi  harus  dilihat  dari  sudut
pandang  pengaturan  hukum,  dalam  aneka kondisi yang mungkin
terjadi.
 
Adalah  wajar  bagi  satu  perundangan  --apalagi  agama  yang
bersifat  universal  dan  berlaku  setiap  waktu dan kondisi--
untuk mempersiapkan ketetapan hukum yang  boleh  jadi  terjadi
pada  satu  ketika,  walaupun  kejadian  itu  hanya  merupakan
"kemungkinan".
 
Bukankah kemungkinan mandulnya seorang istri, atau terjangkiti
penyakit  parah,  merupakan  satu kemungkinan yang tidak aneh?
Apakah jalan keluar bagi seorang suami  yang  dapat  diusulkan
untuk  menghadapi  kemungkinan  ini?  Bagaimana ia menyalurkan
kebutuhan biologis atau memperoleh dambaannya  untuk  memiliki
anak?  Poligami  ketika  itu  adalah  jalan yang paling ideal.
Tetapi sekali lagi  harus  diingat  bahwa  ini  bukan  berarti
anjuran,    apalagi    kewajiban.    Itu   diserahkan   kepada
masing-masing menurut pertimbangannya. Al-Quran hanya  memberi
wadah   bagi   mereka   yang   menginginkannya.  Masih  banyak
kondisi-kondisi selain yang disebut ini, yang  juga  merupakan
alasan   logis  untuk  tidak  menutup  pintu  poligami  dengan
syaratsyarat yang tidak ringan itu.
 
Perlu juga dijelaskan bahwa  keadilan  yang  disyaratkan  oleh
ayat  yang  membolehkan  poligami  itu,  adalah keadilan dalam
bidang material.  Surat  Al-Nisa'  [4]:  129  menegaskan  juga
bahwa,
 
    Kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di
    antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin
    berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu
    cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu
    biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu
    mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari
    kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun
    lagi Maha Penyayang.
 
Keadilan  yang  dimaksud  oleh  ayat  ini,  adalah keadilan di
bidang imaterial (cinta). Itu sebabnya hati  yang  berpoligami
dilarang   memperturutkan   hatinya   dan  berkelebihan  dalam
kecenderungan kepada yang dicintai. Dengan  demikian  tidaklah
tepat  menjadikan  ayat  ini sebagai dalih untuk menutup pintu
poligami serapat-rapatnya.
 
SYARAT SAH PERNIKAHAN
 
Untuk sahnya pernikahan, para ulama  telah  merumuskan  sekian
banyak   rukun  dan  atau  syarat,  yang  mereka  pahami  dari
ayat-ayat Al-Quran maupun hadis-hadis Nabi Saw.
 
Adanya calon suami dan istri, wali,  dua  orang  saksi,  mahar
serta terlaksananya ijab dan kabul merupakan rukun atau syarat
yang rinciannya  dapat  berbeda  antara  seorang  ulama/mazhab
dengan mazhab 1ain; bukan di sini tempatnya untuk diuraikan.
 
Calon   istri  haruslah  seorang  yang  tidak  sedang  terikat
pernikahan dengan pria lain, atau tidak dalam  keadaan  'iddah
(masa  menunggu)  baik  karena  wafat  suaminya, atau dicerai,
hamil, dan tentunya tidak pula termasuk mereka yang  terlarang
dinikahi, sebagaimana disebutkan di atas.
 
Wali dari pihak calon suami tidak diperlukan, tetapi wali dari
pihak calon istri dinilai mutlak keberadaan dan  izinnya  oleh
banyak ulama berdasar sabda Nabi Saw.
 
    Tidak sah nikah kecuali dengan (izin) wali.
 
Al-Quran   mengisyaratkan   hal  ini  dengan  firman-Nya  yang
ditujukan kepada para wali:
 
    ... Janganlah kamu (hai para wali) menghalangi mereka
    (wanita yang telah bercerai) untuk kawin (lagi) dengan
    baka1 suaminya, jika terdapat kerelaan di antara mereka
    dengan cara yang makruf (QS Al-Baqarah [2]: 232).
 
Menurut sementara ulama seperti Imam Syafi'i dan Imam  Maliki,
"Seandainya mereka tidak mempunyai hak kewalian, maka larangan
ayat di atas tidak ada artinya," dan karena itu pula  terhadap
para wali ditujukan firman Allah.
 
    Janganlah kamu menikahkan (mengawinkan) orang-orang
    musyrik (dengan wanita-wanita mukminah) sebelum mereka
    beriman (QS Al-Baqarah [2]: 221).
 
Sedang ketika Al-Quran berbicara kepada kaum pria nyatakannya,
 
    Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum
    mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin
    lebih baik dari wanita musyrik walaupun ia menarik
    hatimu (QS AlBaqarah [2]: 221).
 
Ada  juga  ulama lain semacam Abu Hanifah, Zufar, Az-zuhri dan
1ain-lain  yang  berpendapat  bahwa  apabila  seorang   wanita
menikah  tanpa  wali  maka  nikahnya sah, selama pasangan yang
dikawininya sekufu' (setara) dengannya. Mereka  yang  menganut
paham ini berpegang pada isyarat Al-Quran:
 
    Apabila telah habis masa iddahnya (wanita-wanita yang
    suaminya meninggal), maka tiada dosa bagi kamu (hai
    para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri
    mereka menurut yang patut (QS Al-Baqarah [2): 234).
 
Ayat  di  atas, menurut penganut paham ini, mengisyaratkan hak
wanita bebas melakukan apa  saja  yang  baik  --bukan  sekadar
berhias,   bepergian,  atau  menerima  pinangan--  sebagaimana
pendapat yang mengharuskan adanya wali, tetapi  termasuk  juga
menikahkan  diri  mereka  tanpa  wali.  Di  samping  itu, kata
penganut paham ini, Al-Quran juga --dan bukan  hanya  sekali--
menisbahkan   aktivitas  menikah  bagi  para  wanita,  seperti
misalnya firman-Nya,
 
    Sampai dia menikah dengan suami yang lain (QS
    Al-Baqarah [2]: 230).
 
Perlu digarisbawahi bahwa ayat-ayat  di  atas  yang  dijadikan
alasan  oleh  mereka  yang  tidak  mensyaratkan  adanya  wali,
berbicara  tentang  para  janda,  sehingga  kalaupun  pendapat
mereka  dapat diterima maka ketiadaan wali itu terbatas kepada
para janda, bukan gadis-gadis. Pandangan ini  dapat  merupakan
jalan  tengah  antara kedua pendapat yang bertolak belakang di
atas.
 
Hemat penulis adalah amat bijaksana untuk  tetap  menghadirkan
wali,  baik  bagi  gadis  maupun janda. Hal tersebut merupakan
sesuatu yang amat penting karena "seandainya  terjadi  hal-hal
yang tidak diinginkan", maka ada sandaran yang dapat dijadikan
rujukan.  Ini  sejalan  dengan  jiwa  perintah  Al-Quran  yang
menyatakan,   "Nikahilah  mereka  atas  izin  keluarga  (tuan)
mereka." (QS  Al-Nisa'  [4]:  25).  Walaupun  ayat  ini  turun
berkaitan dengan budak-budak wanita yang boleh dikawini.
 
Hal  kedua yang dituntut bagi terselenggaranya pernikahan yang
sah  adalah  saksi-saksi.  Penulis  tidak  menemukan  hal  ini
disinggung  secara  tegas  oleh Al-Quran, tetapi sekian banyak
hadis menyinggungnya.  Kalangan  ulama  pun  berbeda  pendapat
menyangkut  kedudukan  hukum  para  saksi.  Imam  Abu Hanifah,
Syafi'i,   dan   Maliki   mensyaratkan   adanya    saksi-saksi
pernikahan,  hanya  mereka  berbeda  pendapat apakah kesaksian
tersebut  merupakan  syarat   kesempurnaan   pernikahan   yang
dituntut.    Sebelum    pasangan   suami   istri   "bercampur"
(berhubungan  seks)  atau  syarat  sahnya   pernikahan,   yang
dituntut kehadiran mereka saat akad nikah dilaksanakan.
 
Betapapun  perbedaan  itu,  namun  para ulama sepakat melarang
pernikahan yang dirahasiakan, berdasarkan perintah Nabi  untuk
menyebarluaskan berita pernikahan. Bagaimana kalau saksi-saksi
itu diminta untuk merahasiakan pernikahan  itu?  Imam  Syafi'i
dan  Abu  Hanifah  menilainya  sah-sah saja, sedang Imam Malik
menilai bahwa  syarat  yang  demikian  membatalkan  pernikahan
{fasakh).  Perbedaan  pendapat  ini lahir dari analisis mereka
tentang fungsi para saksi,  apakah  fungsi  mereka  keagamaan,
atau  semata-mata  tujuannya  untuk menutup kemungkinan adanya
perselisihan pendapat. Demikian penjelasan  Ibnu  Rusyd  dalam
bukunya Bidayat Al-Mujtahid.
 
Dalam   konteks  ini  terlihat  betapa  pentingnya  pencatatan
pernikahan yang ditetapkan  melalui  undang-undang,  namun  di
sisi  lain pernikahan yang tidak tercatat selama ada dua orang
saksi-tetap dinilai sah oleh agama.  Bahkan  seandainya  kedua
saksi   itu   diminta   untuk   merahasiakan  pernikahan  yang
disaksikannya itu, maka pernikahan  tetap  dinilai  sah  dalam
pandangan pakar hukum Islam Syafi'i dan Abu Hanifah.
 
Namun   demikian,   menurut   hemat   penulis,  dalam  konteks
keindonesiaan,  walaupun  pernikahan  demikian   dinilai   sah
menurut  hukum  agama,  namun perkawinan di bawah tangan dapat
mengakibatkan dosa  bagi  pelaku-pelakunya,  karena  melanggar
ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah dan DPR (Ulil Amri).
Al-Quran memerintahkan setiap Muslim untuk menaati  Ulil  Amri
selama  tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Dalam hal
pencatatan tersebut, ia bukan saja tidak bertentangan,  tetapi
justru sangat sejalan dengan semangat Al-Quran.
 
Hal ketiga dalam konteks perkawinan adalah mahar.
 
Secara  tegas  Al-Quran memerintahkan kepada calon suami untuk
membayar mahar.
 
    Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita-wanita (yang
    kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan (QS
    A1-Nisa' [4]: 4).
 
Suami berkewajiban menyerahkan mahar  atau  mas  kawin  kepada
calon istrinya.
 
Mas  kawin  adalah  lambang kesiapan dan kesediaan suami untuk
memberi nafkah lahir kepada istri dan anak-anaknya, dan selama
mas  kawin  itu  bersifat  lambang,  maka sedikit pun jadilah.
Bahkan:
 
    Sebaik-baik mas kawin adalah seringan-ringannya.
 
Begitu sabda Nabi Saw., walaupun Al-Quran tidak melarang untuk
memberi  sebanyak mungkin mas kawin (QS Al-Nisa' [4]: 20). Ini
karena pernikahan bukan akad jual beli, dan mahar bukan  harga
seorang  wanita. Menurut Al-Quran, suami tidak boleh mengambil
kembali mas kawin itu, kecuali bila istri merelakannya.
 
    "Apakah kalian (hai para suami) akan mengambilnya
    kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan
    menanggung dosa yang nyata? Bagaimana kamu akan
    mengambilnya kembali padahal sebagian kamu (suami atau
    istri) te1ah melapangkan (rahasianya/bercampur) dengan
    sebagian yang lain (istri atau suami) dan mereka (para
    istri) telah mengambil dari kamu perjanjian yang amat
    kokoh (QS Al-Nisa' [4]: 20-2l).
 
Agama menganjurkan  agar  mas  kawin  merupakan  sesuatu  yang
bersifat  materi, karena itu bagi orang yang tidak memilikinya
dianjurkan untuk menangguhkan perkawinan  sampai  ia  memiliki
kemampuan.  Tetapi kalau oleh satu dan lain hal, ia harus juga
kawin, maka cincin besi pun jadilah.
 
    Carilah walau cincin dari besi.
 
Begitu sabda Nabi Saw. Kalau ini pun tidak dimilikinya  sedang
perkawinan  tidak  dapat  ditangguhkan lagi, baru mas kawinnya
boleh berupa mengajarkan beberapa  ayat  Al-puran.  Rasulullah
pernah bersabda,
 
    Telah saya kawinkan engkau padanya dengan apa yang
    engkau miliki dari Al-Quran. (Diriwayatkan oleh Bukhari
    dan Muslim melalui Sahal bin Sa'ad).
 
Adapun  ijab  dan  kabul  pernikahan,  maka ia pada hakikatnya
adalah ikrar dari calon istri, melalui walinya, dan dari calon
suami   untuk  hidup  bersama  seia  sekata,  guna  mewujudkan
keluarga sakinah, dengan  melaksanakan  segala  tuntunan  dari
kewajiban.  Ijab seakar dengan kata wajib, sehingga ijab dapat
berarti: atau paling tidak "mewujudkan suatu kewajiban"  yakni
berusaha  sekuat  kemampuan  untuk membangun satu rumah tangga
sakinah. Penyerahan disambut dengan  qabul  (penerimaan)  dari
calon suami.
 
PERNIKAHAN                                                
Untuk  menguatkan ikrar, maka serah terima itu dalam pandangan
Imam Syafi'i tidak  sah  kecuali  jika  menggunakan  apa  yang
diistilahkan oleh Nabi Saw. dengan Kalimat Allah, yaitu dengan
sabdanya:
 
    "Hubungan seks kalian menjadi halal atas dasar kalimat
    Allah."
 
Kalimat Allah yang dimaksud adalah kedua  lafaz  (kata)  nikah
dan   zawaj   (kawin)  yang  digunakan  Al-Quran.  Imam  Malik
membolehkanjuga kata "memberi" sebagai  terjemahan  dari  kata
wahabat  sebagaimana  disinggung pada pendahuluan. Ulama-ulama
ini tidak menilai sah lafaz ijab  dan  kabul  yang  mengandung
"kepemilikan",   "penganugerahan",   dan   sebagainya,  karena
kata-kata tersebut tidak digunakan  Al-Quran  sekaligus  tidak
mencerminkan  hakikat  hubungan  suami  istri yang dikehendaki
oleh-Nya. Hubungan suami istri bukanlah  hubungan  kepemilikan
satu  pihak  atas  pihak  lain,  bukan  juga  penyerahan  diri
seseorang kepada suami, karena  itu  sungguh  tepat  pandangan
yang tidak menyetujui lafaz mahabat (penganugerahan) digunakan
dalam  akad  pernikahan.  Hubungan  tersebut  adalah  hubungan
kemitraan  yang  diisyaratkan  oleh  kata  zauwj  yang berarti
pasangan.  Suami  adalah   pasangan   istri,   demikian   pula
sebaliknya.  Kata  ini memberi kesan bahwa suami sendiri belum
lengkap, istri pun demikian. Persis seperti  rel  kereta  api,
bila  hanya  satu  re1  saja  kereta  tak dapat berjalan, atau
katakanlah bagaikan sepasang anting  di  telinga,  bila  hanya
sebelah maka ia tidak berfungsi sebagai perhiasan.
 
Mengawinkan  pria  dan  wanita adalah menghimpunnya dalam satu
wadah  perkawinan,  sehingga   wajar   jika   upaya   tersebut
dilukiskan  oleh  Al-Quran  dengan  menggunakan kata "menikah"
yang  pengertian  kebahasaannya   seperti   dikemukakan   pada
pendahuluan adalah "menghimpun".
 
Bahwa  Al-Quran  menggunakan  kata  wahabat khusus kepada Nabi
Saw. adalah merupakan satu hal yang wajar,  karena  siapa  pun
dari umatnya wajar untuk melebur keinginannya demi kepentingan
Nabi Saw.
 
    Demi Allah, kalian tidak beriman (secara sempurna)
    sampai patuh keinginan hati kalian terhadap apa yang
    kusampaikan.
 
Demikian sabda Nabi  Saw.  Dalam  kesempatan  yang  lain  Nabi
bersabda:
 
    Salah seorang di antara kamu tidak beriman, sehingga
    dia mencintai aku lebih dari cintanya terhadap orang
    tuanya, anaknya dan seluruh manusia (Diriwayatkan oleh
    Bukhari dan Muslim melalui Anas bin Malik).
 
Makna ini sejalan dengan firman Allah,
 
Nabi (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari pada
diri mereka sendiri (QS Al-Ahzab [33]: 6).
 
Itulah Kalimat Allah dalam hal sahnya perkawinan; kalimat  itu
sendiri menurut Al-Quran:
 
    Te1ah sempurna sebagai kalimat yang benar dan adil, dan
    tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya (QS
    Al-An'am [6]: 115).
    
"Dia  penuh  kebajikan"  (QS  Al-A'raf [7]:  137),  lagi  "Dan
kalimat  Allah itulah yang Mahatinggi" (QS Al-Tawbah [9): 40).
Dengan  kalimat  itulah  Allah  menganugerahkan  kepada   Nabi
Zakaria  yang  telah  berusia  lanjut,  lagi  istrinya mandul,
"seorang anak  bernama  Yahya  yang  menjadi  panutan,  pandai
menjaga  diri,  serta  menjadi  Nabi" (QS Ali 'Imran [3]: 39).
Dengan kalimat itu Allah menciptakan Isa a.s. tanpa ayah,  dan
diakuinya  sebagai "seorang terkemuka di dunia dan di akherat,
serta termasuk orang-orang yang didekatkan kepada  Allah"  (QS
Ali 'Imran [3]: 45).
 
Serah terima perkawinan dilakukan dengan  kalimat  Allah  yang
sifatnya demikian, agar calon suami dan istri menyadari betapa
suci peristiwa yang sedang mereka alami. Dan dalam  saat  yang
sama  mereka  berupaya untuk menjadikan kehidupan rumah tangga
mereka  dinaungi  oleh  makna-makna  kalimat  itu:  kebenaran,
keadilan,  langgeng  tidak berubah, luhur penuh kebajikan, dan
dikaruniai anak  yang  saleh,  yang  menjadi  panutan,  pandai
menahan  diri,  serta  menjadi orang terkemuka di dunia dan di
akhirat lagi dekat kepada Allah.
 
TALI-TEMALI PEREKAT PERNIKAHAN
 
Cinta, mawaddah, rahmah dan amanah Allah, itulah  tali  temali
ruhani  perekat  perkawinan,  sehingga  kalau  cinta pupus dan
mawaddah putus, masih ada rahmat,  dan  kalau  pun  ini  tidak
tersisa,  masih  ada amanah, dan selama pasangan itu beragama,
amanahnya terpelihara, karena Al-Quran memerintahkan,
 
    Pergaulilah istri-istrimu dengan baik dan apabila kamu
    tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan
    tali perkawinan), karena boleh jadi kamu tidak
    menyenangi sesuatu tetapi Allah menjadikan padanya (di
    balik itu) kebaikan yang banyak (QS Al-Nisa' [4]: l9).
 
Mawaddah, tersusun dari huruf-huruf  m-w-d-d-,  yang  maknanya
berkisar  pada  kelapangan  dan  kekosongan.  Mawaddah  adalah
kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak  buruk.  Dia
adalah  cinta  plus. Bukankah yang mencintai, sesekali hatinya
kesal  sehingga  cintanya  pudar  bahkan  putus.  Tetapi  yang
bersemai  dalam  hati  mawaddah,  tidak  lagi  akan memutuskan
hubungan, seperti yang bisa terjadi pada orang yang  bercinta.
Ini  disebabkan  karena  hatinya begitu lapang dan kosong dari
keburukan sehingga pintu-pintunya  pun  telah  tertutup  untuk
dihinggapi keburukan lahir dan batin (yang mungkin datang dari
pasangannya). Begitu  lebih  kurang  komentar  pakar  Al-Quran
Ibrahim  Al-Biqa'i  (1480  M)  ketika  menafsirkan  ayat  yang
berbicara tentang mawaddah.
 
Rahmah adalah kondisi psikologis yang  muncul  di  dalam  hati
akibat  menyaksikan  ketidakberdayaan  sehingga mendorong yang
bersangkutan  untuk   memberdayakannya.   Karena   itu   dalam
kehidupan   keluarga,   masing-masing  suami  dan  istri  akan
bersungguh-sungguh bahkan  bersusah  payah  demi  mendatangkan
kebaikan bagi pasangannya serta menolak segala yang mengganggu
dan mengeruhkannya.
 
Al-Quran  menggarisbawahi  hal  ini   dalam   rangka   jalinan
perkawinan  karena  betapapun  hebatnya  seseorang,  ia  pasti
memiliki kelemahan, dan betapapun  lemahnya  seseorang,  pasti
ada  juga  unsur kekuatannya. Suami dan istri tidak luput dari
keadaan demikian, sehingga  suami  dan  istri  harus  berusaha
untuk saling melengkapi.
 
    Istri-istri kamu (para suami) adalah pakaian untuk
    kamu, dan kamu adalah pakaian untuk mereka (QS
    Al-Baqarah [2]: 187).
 
Ayat  ini  tidak hanya mengisyaratkan bahwa suami-istri saling
membutuhkan sebagaimana kebutuhan manusia pada pakaian, tetapi
juga  berarti  bahwa suami istri --orang masing-masing menurut
kodratnya memiliki kekurangan-- harus dapat berfungsi "menutup
kekurangan  pasangannya".  sebagaimana  pakaian  menutup aurat
(kekurangan) pemakainya.
 
Pernikahan adalah amanah, digarisbawahi oleh Rasul Saw.  dalam
sabdanya,
 
    Kalian menerima istri berdasar amanah Allah.
 
Amanah  adalah  sesuatu  yang  diserahkan  kepada  pihak  lain
disertai   dengan   rasa   aman   dari    pemberinya    karena
kepercayaannya bahwa apa yang diamanatkan itu, akan dipelihara
dengan baik, serta keberadaannya aman di  tangan  yang  diberi
amanat itu.
 
Istri  adalah  amanah  di  pelukan  suami, suami pun amanat di
pangkuan  istri.  Tidak  mungkin  orang   tua   dan   keluarga
masing-masing  akan  merestui  perkawinan  tanpa  adanya  rasa
percaya dan aman itu. Suami --demikian juga istri-- tidak akan
menjalin   hubungan  tanpa  merasa  aman  dan  percaya  kepada
pasangannya.
 
Kesediasn seorang istri untuk  hidup  bersama  dengan  seorang
lelaki,    meninggalkan    orang-tua    dan    keluarga   yang
membesarkannya,  dan  "mengganti"  semua  itu   dengan   penuh
kerelaan  untuk  hidup  bersama  lelaki  "asing"  yang menjadi
suaminya, serta bersedia membuka rahasianya yang paling dalam.
Semua itu merupakan hal yang sungguh mustahil, kecuali jika ia
merasa yakin bahwa kebahagiannnya  bersama  suami  akan  lebih
besar  dibanding  dengan  kebahagiaannya dengan ibu bapak, dan
pembelaan suami terhadapnya tidak lebih sedikit dari pembelaan
saudara-saudara sekandungnya. Keyakinan inilah yang dituangkan
istri  kepada  suaminya  dan  itulah  yang  dinamai   Al-Quran
mitsaqan  ghalizha  (perjanjian  yang amat kokoh) (QS Al-Nisa'
[4): 21).
 
SUAMI ADALAH PEMIMPIN KELUARGA
 
Keluarga, atau katakanlah unit terkecil dari  keluarga  adalah
suami  dan  istri,  atau ayah, ibu, dan anak, yang bernaung di
bawah satu rumah tangga. Unit  ini  memerlukan  pimpinan,  dan
dalam pandangan Al-Quran yang wajar memimpin adalah bapak.
 
    Kaum lelaki (suami) adalah pemimpin bagi kaum perempuan
    (istri) (QS Al-Nisa' [4]: 34).
 
Ada   dua  alasan  yang  dikemukakan  lanjutan  ayat  di  atas
berkaitan dengan pemilihan ini, yaitu:
 
a. Karena Allah melebihkan sebagian mereka atas
   sebagian yang lain, dan
 
b. Karena mereka (para suami diwajibkan) untuk
   menafkahkan sebagian dari harta mereka (untuk
   istri/keluarganya).
 
Alasan kedua agaknya cukup logis.  Bukankah  di  balik  setiap
kewajiban   ada   hak?   Bukankah   yang  membayar  memperoleh
fasilitas?
 
Adapun alasan pertama, maka ini berkaitan dengan faktor psikis
lelaki  dan  perempuan.  Sementara  psikolog berpendapat bahwa
perempuan berjalan di bawah bimbingan perasaan, sedang  lelaki
di  bawah  pertimbangan  akal.  Walaupun kita sering mengamati
bahwa  perempuan  bukan  saja  menyamai   lelaki   da1am   hal
kecerdasan,  bahkan  terkadang melebihinya. Keistimewaan utama
wanita adalah pada perasaannya yang sangat halus. Keistimewaan
ini amat diperlukan dalam memelihara anak. Sedang keistimewaan
utama  lelaki  adalah  konsistensinya  serta  kecenderungannya
berpikir   secara  praktis.  Keistimewaan  ini  menjadikan  ia
diserahi tugas kepemimpinan rumah tangga.
 
    Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan
    kewajibannya menurut cara yang makruf akan tetapi para
    suami mempunyai satu derajat kelebihan atas mereka
    (para istri)". (QS A1-Baqarah [2]: 228).
 
Derajat itu adalah kelapangan  dada  suami  terhadap  istrinya
untuk  meringankan sebagian kewajiban istri. Karena itu, tulis
Syaikh  Al-Mufasirin   (Guru   besar   para   penafsir)   Imam
Ath-Thabari,  "Walau  ayat  ini  disusun dalam redaksi berita,
tetapi  maksudnya  adalah  anjuran  bagi  para   suami   untuk
memperlakukan istrinya dengan sifat terpuji, agar mereka dapat
memperoleh derajat itu."
 
Imam  Al-Ghazali  menulis,  "Ketahuilah  bahwa  yang  dimaksud
dengan   perlakuan   baik   terhadap   istri,  bukanlah  tidak
mengganggunya,  tetapi  bersabar  dalam  kesalahannya,   serta
memperlakukannya   dengan   kelembutan   dan   maaf,  saat  ia
menumpahkan emosi dan kemarahannya."
 
"Keberhasilan perkawinan tidak  tercapai  kecuali  jika  kedua
belah  pihak  memperhatikan  hak  pihak  lain.  Tentu saja hal
tersebut banyak,  antara  lain  adalah  bahwa  suami  bagaikan
pemerintah,   dan   dalam   kedudukannya   seperti   itu,  dia
berkewajiban untuk memperhatikan hak dan kepentingan rakyatnya
(istrinya).   Istri   pun  berkewajiban  untuk  mendengar  dan
mengikutinya, tetapi di  sisi  lain  perempuan  mempunyai  hak
terhadap  suaminya untuk mencari yang terbaik ketika melakukan
diskusi."  Demikian  lebih  kurang  tulis  Al-Imam  Fakhruddin
Ar-Razi.
 
Sekali  lagi, kepemimpinan tersebut adalah keistimewaan tetapi
sekaligus tanggung jawab yang tidak kecil.
 
Kalau titik temu dalam musyawarah  tidak  diperoleh,  sehingga
keretakan  hubungan dikhawatirkan terjadi, maka barulah keluar
kamar menghubungi orang-tua atau  orang  yang  dituakan  untuk
meminta  nasihatnya,  atau  bahkan  barulah  diharapkan campur
tangan orang bijak untuk menyelesaikannya. Dalam  konteks  ini
Al-Quran berpesan,
 
    Jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara
    keduanya, maka utuslah seorang hakam (juru damai) dari
    keluarga laki-laki, dan seorang hakam dari ke1uarga
    perempuan. Jika keduanya (suami istri dan para hakam)
    ingin mengadakan perbaikan, niscapa Allah memberi
    bimbingan kepada keduanya (suami istri). Sesungguhnya
    Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al-Nisa'
    [4]: 35).
 
TUJUAN PERKAWINAN
 
Sepintas boleh jadi ada yang berkata, apalagi muda mudi, bahwa
"pemenuhan   kebutuhan   seksual   merupakan   tujuan    utama
perkawinan,   dan   dengan  demikian  fungsi  utamanya  adalah
reproduksi".
 
Benarkah    demikian?    Baiklah    terlebih    dahulu    kita
menggarisbawahi  bahwa  dalam  pandangan  ajaran  Islam,  seks
bukanlah sesuatu yang kotor  atau  najis,  tetapi  bersih  dan
harus  selalu  bersih.  Mengapa  kotor,  atau perlu dihindari,
sedang Allah sendiri  yang  memerintahkannya  secara  tersirat
melalui  law  of sex, bahkan secara tersurat antara lain dalam
surat Al-Baqarah (2): 187,
 
    Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan
    nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi
    maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka
    (istri-istrimu), dan carilah apa yang ditetapkan Allah
    untukmu.
 
Dalam ayat lain Allah berfirman:
 
    Istri-istri kamu adalah ladang (tempat bercocok tanam)
    untukmu, maka datangilah (garaplah) ladang kamu
    bagaimana~ saja kamu kehendaki (QS Al-Baqarah [2]:
    223).
 
Karena hubungan seks  harus  bersih,  maka  hubungan  tersebut
harus  dimulai  dan  dalam  suasana  suci  bersih; tidak boleh
dilakukan dalam keadaan kotor, atau situasi kekotoran.  Karena
itu,   Rasulullah  Saw.  menganjurkan  agar  berdoa  menjelang
hubungan seks dimulai.
 
Beberapa ayat Al-Quran sangat menarik untuk direnungkan  dalam
konteks pembicaraan kita ini adalah:
 
    (Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi
    kamu dan jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dan
    jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula,
    dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan cara itu ...
    Tidak ada sesuatu pun yang serupa denan Dia, dan Dia
    Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS Al-Syura
    [42]: 11).
 
Binatang ternak berpasangan untuk berkembang biak, manusia pun
demikian, begitu pesan ayat di atas. Tetapi dalam ayat di atas
tidak  disebutkan  kalimat  mawaddah  dan  rahmah, sebagaimana
ditegaskan  ketika  Al-Quran   berbicara   tetang   pernikahan
manusia.
 
    Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Allah
    adalah Dia menciptakan dari jenismu pasangan-pasangan
    agar kamu (masing-masing) memperoleh ketenteraman dari
    (pasangan)-nya, dari dijadikannya di antara kamu
    mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya yang demikian itu
    benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang
    berpikir (QS Al-Rum [30]: 21).
 
Mengapa  demikian?  Tidak  lain  karena  manusia  diberi tugas
oleh-Nya untuk membangun peradaban, yaitu manusia diberi tugas
untuk menjadi khalifah di dunia ini.
 
Cinta  kasih,  mawaddah  dan  rahmah  yang dianugerahkan Allah
kepada sepasang suami istri adalah untuk satu tugas yang berat
tetapi mulia. Malaikat pun berkeinginan untuk melaksanakannya,
tetapi kehormatan itu diserahkan Allah kepada manusia.
 
Demikian sekilas pandangan Al-Quran tentang pernikahan,  tentu
saja  lembaran  kecil  ini tidak menggambarkan secara sempurna
wawasan  Kitab  Suci  itu,  namun  paling   tidak   apa   yang
dikemukakan di atas diharapkan dapat memberikan gambaran umum.
Semoga.[]
 
CATATAN KAKI
 
1 Kata utuw, dalam berbagai bentuknya terulang didalam
  Al-Quran sebanyak 32 kali. Al-Quran menggunakannya
  untuk anugerah yang agung berupa ilmu atau Kitab Suci.
 
2 Mahmud Syaltut l959: 253.
 
----------------
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net
----------------